MEI INTERHASH DI BALI DIIKUTI 6000 PESERTA


MEI INTERHASH DI BALI DIIKUTI 6000 PESERTA
ASIA PASIFIC HASH DI LABUAN BAJO

Kementerian Pariwisata menilai penyelenggaraan "Bali International Hash House Harriers" (Interhash) atau pertemuan komunitas pecinta alam dari 100 negara pada Mei mendatang mampu mendongkrak kedatangan wisatawan di Pulau Dewata.


"Di luar dugaan, yang sudah mendaftar sampai 6.000 orang. Kami akan sambut mereka," kata Asisten Deputi Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata, Azwir Malaon melalui siaran pers Kemenpar di Jakarta, Kamis (3/3/2016)

Interhash merupakan salah satu acara internasional yang berpotensi mendatangkan wisatawan. Interhash merupakan komunitas pencinta alam (hasher) yang beranggotakan lebih dari 100 negara di dunia dan sudah diselenggarakan sejak 1978.

Tahun ini adalah penyelenggaraan ke-21 dan diikuti pehobi lari lintas alam dari 100 negara.

"Event ini rutin digelar setiap dua tahun sekali dengan skala internasional dan lokasinya berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, dan siapa tuan rumahnya ditentukan lewat penawaran tahun lalu di China, dan Bali memenangkan bidding tersebut," katanya.

Menurut Azwir, wisatawan mancanegara yang akan datang ke Indonesia untuk acara Interhash itu merupakan masyarakat kalangan atas, dalam hal ini memiliki finansial yang lumayan kuat.

"Mereka adalah wisatawan spesial, karena secara finansial di atas rata-rata, namun sangat hobi wisata alam yang digabungkan dengan olahraga," katanya.

Kementerian Pariwisata sedang berkoordinasi denga pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Bali untuk kelancaran acara tersebut.

Dalam koordinasi itu, lanjut Azwir, akan ditentukan daerah-daerah indah mana saja di Bali yang menjadi jalur perjalanan mereka selama mengikuti Interhash.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sering mengkategorikan sport tourismitu masuk dalam kategori event man made. Mereka tertarik datang ke Indonesia bukan karena faktor budaya (culture) atau alam (nature)tetapi karena acara yang dibuat dengan mengambil nama Interhash.


Sumber : Kompas