"NYEBERANG" DARI PULAU FLORES KE PULAU SUMBAWA

"NYEBERANG" DARI PULAU FLORES KE PULAU SUMBAWA
KAPAL FERY PENYEBERANGAN
Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan pesona wisata. Salah satunya Labuan Bajo yang menjadi pintu gerbang ke Taman Nasional Komodo. Kawasan ini tenar dengan satwa langka komodo.

Selain itu ke timur Labuan Bajo, wisatawan juga bisa menikmati keindahan danau tiga warna di Gunung Kelimutu. Belum puas bermain di Pulau Flores, wisatawan bisa menyeberang ke Pulau Sumbawa yang masuk wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mendaki Gunung Tambora. Pulau Sumbawa berada di sebelah barat Pulau Flores.

Untuk menuju Gunung Tambora, wisatawan bisa menyeberang dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape sebagai pintu masuk Pulau Sumbawa dari jalur laut. Wisatawan bisa menyeberang menggunakan kapal feri yang tersedia di Pelabuhan Labuan Bajo.

Setelah mendaki Gunung Kelimutu dan Inerie dan melintasi Trans Flores dari Ende ke Labuan Bajo, tim "Jelajah Tanpa Batas" menyeberang dari Labuan Bajo ke Sumbawa untuk mendaki Gunung Tambora.

Tim menyeberang dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape dengan jadwal keberangkatan pukul 16.00 WITA, Rabu (27/4/2016). Wartawan Kompas.com Sri Anindiati Nursastri melaporkan, terdapat dua jadwal penyeberangan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape yakni pukul 09.00 dan 16.00 WITA.

KOMPAS.com / Sri Anindiati NursastriProses mobil memasuki kapal feri di Pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/4/2016).
Pembelian tiket kapal feri untuk menyeberang telah dibuka tiga jam keberangkatan kapal feri. Harga tiket kapal feri untuk satu penumpang untuk menyeberang dari Labuan Bajo ke Sape seharga Rp 30.000, untuk mobil sedan Rp 1.183.000, dan mobil pikap seharga Rp 1.100.000. Kapal feri akan berangkat sesuai dengan jadwal pelayaran di Pelabuhan Labuan Bajo.

"Untuk mobil bisa masuk biasanya harus menunggu air surut. Jadinya kemarin kita berangkat 15 menit," tutur Sastri menceritakan kegiatan "Jelajah Tanpa Batas" saat dihubungi di dalam perjalanan menuju kaki Gunung Tambora di Dompu, Kamis (28/4/2016).

Kapal yang ditumpangi tim "Jelajah Tanpa Batas" bernama Kapal Dewana. Satu kapal feri tersebut bisa memuat sekitar lima truk dan lima mobil dan motor-motor di bagian bawah dek kapal. Kapal tersebut memiliki tiga dek yakni dek bawah, tengah, dan atas untuk penumpang.

Saat di dalam kapal feri, wisatawan bisa memilih duduk di bangku penumpang di sisi luar dek maupun di sisi dalam dek. Di sisi luar dek kapal feri, wisatawan bisa duduk di bangku sambil melihat pemandangan laut serta gugusan pulau di Taman Nasional Komodo dan di sisi dalam bagi yang ingin menikmati fasilitas air conditioner (AC).

Sastri menyebutkan, fasilitas yang ada di Kapal Dewana ini yakni toilet, kamar mandi, televisi, taman bermain untuk anak-anak di dek tengah, dua buah ruang istirahat yang berkapasitas total yakni 20 orang, dan juga AC.
Selain itu, di dalam kapal juga terdapat penjaja makanan instan dan minuman untuk para penumpang dengan harga yang bervariasi seperti mie instan Rp 15.000 dan air mineral Rp 5.000.

KOMPAS.com / Sri Anindiati NursastriRuangan ber-AC di kapal feri penyeberangan Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape di Nusa Tenggara Barat.
Perjalanan dari Labuan Bajo ke Sape memakan waktu perjalanan delapan jam. Waktu tempuh tersebut masih bergantung dengan keadaan ombak laut saat kapal feri menyeberangi Selat Alas.

"Satu jam pertama dari keberangkatan bisa lihat pulau-pulau di Taman Nasional Komodo. Hijau karena musim hujan, kalau musim kering pasti menguning dan setelah laut lepas. Satu jam berikutnya, bisa melihat matahari terbenam," ujar Sastri.

Kapal feri yang ditumpangi tim "Jelajah Tanpa Batas" tiba di Pelabuhan Sape pukul 00.00 WITA, Kamis (28/4/2016). Jika ingin beristirahat sejenak di Pelabuhan Sape, di pelataran pelabuhan terdapat sejumlah warung yang menyediakan makanan dan minuman.
Ikuti kisah perjalanan pelari Willem Sigar di liputan khususKompas.com pada laman "Ekspedisi Alam Liar - 50 Gunung 40 Hari". Tim Kompas.com akan mengikuti perjalanan Willem mendaki 50 gunung secara lari maraton dalam 40 hari. 
Perjalanan menuju kaki gunung ditempuh dengan jalan darat menggunakan mobil Nissan All New Navara. Ekspedisi ini juga didukung oleh Pertamina dan Eiger.